Pengasuh Anak di Masa Kolonial: dari Ikatan Batin hingga Perubahan Sosial
1 min read

Pengasuh Anak di Masa Kolonial: dari Ikatan Batin hingga Perubahan Sosial

Praktik pengasuhan anak Belanda oleh pengasuh lokal, dikenal sebagai babu, pada masa kolonial mencatat sejarah yang kontroversial dan memicu perubahan sosial yang signifikan.

Sejarawan terkenal, Jean Gelman Taylor, dalam karyanya “Kehidupan Sosial di Batavia,” mengungkapkan fenomena ini. Motivasi orang tua Belanda menyerahkan anak-anak kepada pengasuh berkisar antara ketidakmampuan finansial hingga kemalasan dalam mengasuh sendiri.

Namun, hubungan yang terbentuk antara anak-anak Belanda dan para babu sering kali lebih dekat daripada dengan orang tua kandung mereka. Ironisnya, meskipun ada ikatan batin yang kuat, pengasuhan oleh babu sering kali dianggap sebagai beban oleh para pengasuh.

Dampaknya terlihat dalam kebiasaan dan tingkah laku anak-anak Belanda yang sering kali mengadopsi bahasa dan kebiasaan pengasuh mereka. Namun, mereka juga mengalami kesulitan berbahasa Belanda dengan baik dan benar, yang menjadi sorotan negatif bagi pelancong Belanda.

Akibatnya, orang tua Belanda mulai mencari pengasuh yang lebih terdidik dan berpendidikan, bahkan dengan mencantumkan syarat bahasa Eropa seperti Belanda dan Prancis dalam iklan-iklan pencarian pengasuh.

Perjalanan pengasuh anak di masa kolonial juga menggambarkan perjuangan dan penderitaan para babu pribumi Indonesia yang dipekerjakan di Belanda.

sampai saat babu pengasuh anak masih dipraktikan di Indonesia meski Indonesia sudah  merdeka. Hal ini berkelindan dengan praktik pengasuhan anak di masa kolonial yang tidak bisa dielakan bagi masyarakat Indonesia.

Meskipun awalnya dianggap rendah, pandangan ini berubah setelah peristiwa seperti kebakaran. Ini adalah contoh bagaimana sejarah pengasuhan anak mencerminkan kompleksitas hubungan antarbudaya dan perubahan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *